Dari Stereotipe ke Kesetaraan: Menavigasi Gender di Era Media Digital

Perspektif gender menjadi sudut pandang penting ketika mengkaji tentang realitas yang termediasi. Media digital menjadi ruang-ruang baru dalam mengkonstruksi realitas yang memperjuangkan kesetaraan gender dan inklusi sosial, atau bahkan semakin melanggengkan diskriminasi. 

Pembahasan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Elly Malihah dari Universitas Pendidikan Indonesia, dalam kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 14 yang diselenggarakan pada Rabu (13/5/2026), dengan tajuk “Media Digital, Gender, dan Inklusi Sosial”.

Dalam pemaparannya, Prof. Elly menjelaskan bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai peran laki-laki dan perempuan. Gender dipahami sebagai konstruksi sosial yang berkaitan dengan pembagian peran, relasi kekuasaan, serta ekspektasi sosial yang berkembang di masyarakat. Karena itu, media tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai ruang yang membentuk cara berpikir dan cara pandang masyarakat terhadap identitas gender.

Beliau mencontohkan bagaimana media sering kali memperkuat stereotipe gender dalam berbagai bentuk representasi. Dalam iklan rokok atau minuman beralkohol, laki-laki umumnya digambarkan sebagai sosok maskulin, dominan, kuat, dan penuh kuasa. Sementara itu, perempuan lebih sering ditampilkan sebagai sosok lemah lembut, emosional, atau sekadar pelengkap visual. Representasi semacam ini secara tidak langsung membentuk standar sosial tertentu tentang bagaimana laki-laki dan perempuan “seharusnya” berperilaku di masyarakat.

Di sisi lain, Prof. Elly juga menekankan bahwa media digital dapat menjadi ruang perlawanan untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan inklusi sosial. Media sosial membuka peluang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk menyuarakan pengalaman, membangun solidaritas, serta mengkritisi ketidakadilan gender yang masih terjadi. Berbagai gerakan sosial berbasis digital menunjukkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat advokasi dan perubahan sosial.

Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa algoritma media sosial dan fenomena echo chamber sering kali tidak bersifat netral. Algoritma dapat memperkuat bias tertentu dengan terus menampilkan konten yang serupa dengan preferensi pengguna. Akibatnya, stereotipe dan diskriminasi gender dapat semakin mengakar karena masyarakat hanya terpapar pada sudut pandang yang terbatas dan berulang.

Oleh karena itu, Prof. Elly menegaskan pentingnya pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam membangun media yang lebih adil dan inklusif. Pendekatan ini diperlukan agar media digital mampu menciptakan ruang yang menghargai keberagaman, kesetaraan, dan partisipasi semua kelompok masyarakat tanpa diskriminasi.

Melalui kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 14 ini, peserta diajak untuk memahami bagaimana media digital memengaruhi konstruksi sosial tentang gender sekaligus pentingnya membangun literasi digital yang kritis. Diskusi ini juga menjadi bagian dari upaya Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP UNY dalam menghadirkan isu-isu sosial kontemporer yang relevan dengan perkembangan masyarakat digital saat ini. (Sasiana)