Bahasa Indonesia
English
You are here
Mengembalikan Ruang Sosial Anak-Anak: Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mengikuti KKN Kemanusiaan di Aceh Tamiang

Akhir tahun 2025 menjadi periode yang menyisakan luka bagi sebagian wilayah Indonesia. Banjir melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Di Kabupaten Aceh Tamiang, air tidak hanya merendam rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menghentikan ritme kehidupan sosial masyarakat. Lapangan desa menjadi sunyi, ruang belajar terhenti, dan tempat ibadah kehilangan aktivitasnya.
Merespons kondisi tersebut, Universitas Negeri Yogyakarta mengirimkan 100 mahasiswa dalam program KKN Kemanusiaan yang berkolaborasi bersama Universitas Samudra, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Para mahasiswa yang terpilih telah melalui serangkaian seleksi yang ketat, mulai dari administrasi, tes kesehatan, tes fisik, psikologi, hingga wawancara. Dari seratus mahasiswa tersebut, tujuh di antaranya berasal dari Departemen Pendidikan Sosiologi, termasuk Rajif Muzamil Rohman.
Bagi Rajif dan timnya, dampak banjir tidak hanya soal kerusakan bangunan, tetapi juga terputusnya kebiasaan-kebiasaan sosial yang selama ini menjadi bagian dari keseharian warga. Dalam perspektif sosiologi, bencana kerap kali merusak ruang sosial, ruang di mana interaksi, kebiasaan, dan solidaritas terbentuk. Ketika anak-anak tidak lagi bermain di lapangan, ketika TPQ berhenti berjalan, dan ketika masjid belum kembali ramai, yang hilang bukan sekadar aktivitas, melainkan denyut kehidupan bersama.
Selama berada di Desa Sapta Marga, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, Rajif dan kelompoknya berupaya menghadirkan kembali aktivitas-aktivitas tersebut. Mereka terlibat dalam kegiatan mengajar di sekolah sebagai dukungan terhadap proses pembelajaran yang sempat terganggu. Di sore hari, mereka membuka les tambahan bagi siswa dan mendampingi pembelajaran di TPQ agar anak-anak kembali terbiasa membaca Al-Qur’an. Masjid yang sebelumnya terdampak banjir dibersihkan bersama warga agar kembali nyaman digunakan. Bahkan kegiatan sederhana seperti bermain bersama anak-anak di sore hari menjadi bagian penting dari proses pemulihan psikososial.
Sepak bola menjadi simbol kecil namun bermakna. Lapangan yang sebelumnya sepi perlahan kembali dipenuhi suara tawa. Bola kembali ditendang, dan anak-anak berlari tanpa canggung. Salah satu warga, Mas Gilang, menyampaikan rasa terima kasihnya, “Terima kasih buat abang dan kakak-kakak, karena dengan adanya kalian anak-anak di sini bisa main bola lagi, bisa tertawa lagi”. Kalimat sederhana itu menjadi penanda bahwa pemulihan tidak selalu diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kembalinya senyum dan kebiasaan sehari-hari.
Selain aktivitas pendidikan dan pendampingan anak-anak, mahasiswa juga terlibat dalam pendampingan UMKM untuk membantu warga bangkit secara ekonomi, program penghijauan sebagai pengingat pentingnya menjaga lingkungan, senam bersama untuk menjaga kesehatan, hingga membantu administrasi data di tingkat kecamatan. Dalam situasi yang dinamis, mereka turut membersihkan fasilitas umum, mendistribusikan donasi, menghadiri takziah sebagai bentuk empati sosial, serta mendampingi pengecekan lokasi pembangunan hunian sementara (huntara).
Berbagai kegiatan tersebut selaras dengan komitmen pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas, pengentasan kemiskinan, kesehatan yang baik, serta penguatan komunitas yang berkelanjutan. Di tingkat nasional, inisiatif ini juga sejalan dengan visi pembangunan dalam Asta Cita yang menekankan penguatan sumber daya manusia, pembangunan dari desa, serta penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Semua itu bukan sekadar daftar kegiatan, melainkan upaya membuka kembali ruang-ruang sosial yang sempat terhenti akibat bencana. Di tengah proses pemulihan struktural yang membutuhkan waktu panjang, inisiatif kecil yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun kembali kehidupan pascabencana.
KKN Kemanusiaan di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa pemulihan tidak hanya berbicara tentang membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga tentang menghidupkan kembali rutinitas, kebersamaan, serta harapan. Ketika anak-anak kembali bermain, ketika suara mengaji terdengar lagi di sore hari, dan ketika warga kembali berkumpul di masjid, di situlah ruang sosial perlahan menemukan denyutnya kembali. (Rajif Muzzamil)
Template Dokumen
Contact Us
U2IK FISIP :
- Tel: +62274-586168
- Email:
- fisip@uny.ac.id;
- humas_fis@uny.ac.id
- Website: http://fisip.uny.ac.id
Copyright © 2026,