Dari Tukang Kebun Hingga Meraih Gelar Doktor: Kisah Inspiratif Dr. Saryono dari Prodi S3 PKn FISIP UNY

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali meluluskan seorang doktor dengan kisah hidup yang luar biasa, yakni Dr. Saryono, S.Pd., M.Pd. Ia resmi diwisuda sebagai lulusan Strata 3 Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada Kamis (29/10/2026) di GOR UNY, sekaligus mencatatkan sejarah baru sebagai doktor keempat yang diluluskan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY. 

Perjalanan pria kelahiran Lampung Timur, 3 April 1986 ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan masa lalu sebagai anak putus sekolah bukanlah penghalang untuk mencapai pendidikan akademik tertinggi. Lahir sebagai anak keenam dari sepuluh bersaudara dalam keluarga buruh tani, Saryono sempat terpaksa berhenti sekolah saat duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 1 Labuhan Maringgai karena himpitan ekonomi. Sebelum putus sekolah, ia harus berjalan kaki sekitar dua jam melintasi empat desa setiap harinya dan bekerja sebagai buruh pencetak batu bata sepulang sekolah demi menyambung hidup bersama adiknya. 

Merantau ke Jakarta pada usia 16 tahun, Saryono menyambung hidup dengan bekerja sebagai tukang kebun, merawat taman, dan mencuci mobil majikannya. Dari situlah titik balik pendidikannya dimulai ketika ia menemukan informasi tentang pendidikan kesetaraan dan mendaftar Kejar Paket B pada malam hari di PKBM Al-Munir Jakarta, sambil tetap bekerja di siang hari. Meski harus berganti angkutan umum hingga tiga kali dan pernah menahan lapar selama dua hingga tiga hari demi membayar biaya sekolah, ia berhasil lulus Paket B pada tahun 2003 dan Paket C pada tahun 2005. 

Semangat belajarnya yang pantang menyerah membawanya mendaftar program sarjana S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di STKIP Kusuma Negara Jakarta pada tahun 2009 dengan berbekal tabungan dari satu bulan gajinya. Selama masa perkuliahan, ia membiayai hidupnya sendiri dengan melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari pelayan restoran, staf administrasi, operator produksi, hingga sempat menjadi pengemudi ojek online. 

Kecintaannya pada dunia pendidikan dan inspirasi yang ia dapatkan dari tokoh-tokoh seperti Toyotomi Hideyoshi, Konfusius, dan Soekarno mendorongnya untuk terus melanjutkan studi. Saryono menyelesaikan pendidikan S1 pada 2015, meraih gelar magister dari STKIP Arrahmaniyah Depok pada 2019, dan diangkat menjadi dosen tetap di STKIP Kusuma Negara pada tahun 2021. Pada tahun 2023, ia melanjutkan pendidikan S3 di UNY tanpa beasiswa, bahkan mengandalkan pinjaman dari teman untuk melunasi biaya pendaftaran awalnya. 

Melalui ketekunan yang luar biasa dan di tengah tantangan kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan panjang, ia berhasil merampungkan disertasinya yang merenkonstruksi pemikiran etika politik Soekarno dalam perspektif pendidikan kewarganegaraan. Pencapaian ini menjadikannya sebagai sarjana, magister, sekaligus doktor pertama yang berasal dari desa tempat kelahirannya. 

Bagi Dr. Saryono, gelar doktor ini bukanlah ajang untuk membuktikan diri lebih hebat dari orang lain, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk memastikan lebih banyak anak kurang mampu mendapatkan akses pendidikan. Ia berpesan kepada siapa saja yang merasa terlambat melanjutkan sekolah karena usia, ekonomi, atau latar belakang Kejar Paket untuk tidak pernah menyerah, karena pendidikan bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat memperoleh ijazah. Dr. Saryono membuktikan bahwa keterbatasan di masa lalu tidak harus menjadi keputusan akhir bagi masa depan seseorang, dan kini ia mendedikasikan ilmu pengetahuannya sebagai jalan pengabdian yang nyata bagi keluarga, masyarakat, dan dunia pendidikan Indonesia.