Bahasa Indonesia
English
You are here
Kayuhan Pedal yang Menembus Langit

Artikel ini merupakan unggahan ulang dari : https://guruppkn24.igi.my.id/2026/06/kayuhan-pedal-yang-menembus-langit.html
Ruangan itu seketika hening tepat sebelum ketua penguji menutup sidang tesis saya. Di detik-detik krusial itu, anehnya, pikiran saya tidak melayang pada nilai atau gelar baru yang akan disematkan. Pikiran saya justru melesat mundur, memutar kembali dua memori yang menjadi bahan bakar paling abadi dalam hidup saya.
Saya teringat dengan sangat jelas hari itu. Hari ketika saya melihat air mata Ibu jatuh di hadapan saya. Bukan karena beliau lelah bekerja, melainkan karena kalimat meremehkan yang mampir ke telinga kami:
"Memangnya mereka mau ambil uang dari mana untuk kuliahkan anaknya? Bapaknya saja tukang becak, Ibunya ikut kerja tani menggarap sawahnya orang lain."
Kata-kata itu menyengat, jujur saja. Namun, alih-alih membiarkan Ibu tenggelam dalam kesedihan, saya dekap tubuhnya erat-erat saat itu. Saya bisikkan sebuah janji yang lahir dari lubuk hati terdalam: "Bu, saya akan buktikan kalau saya bisa menempuh pendidikan tanpa membebani siapa pun."
Sejak hari itu, kalimat remeh tersebut tidak lagi menjadi racun, melainkan bahan bakar. Setiap kali saya lelah menggerogoti, air mata Ibu dan janji itulah yang membangunkan saya.
Hal kedua yang terbayang adalah kilas balik hari pertama perjuangan ini dimulai. Bayangan ketika saya duduk di atas becak tua milik Bapak, diantar langsung olehnya menuju lokasi tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Bagi orang lain, becak mungkin hanya alat transportasi sederhana. Namun bagi saya, kayuhan pedal Bapak hari itu adalah kayuhan doa terhebat yang mengantarkan saya menuju gerbang masa depan. Di atas jok becak itulah, mimpi besar ini dirajut dengan keringat dan harapan seorang ayah.
Pada akhirnya, sebuah gelar akademis hanyalah deretan huruf yang tertulis di belakang nama. Namun, bagi saya, gelar ini adalah sebuah prasasti, sebuah bukti otentik bahwa kehormatan tidak dibeli dengan kemewahan, melainkan ditebus dengan keteguhan hati.
Dulu, dunia mungkin melihat keluarga kami dengan sebelah mata. Mereka melihat becak Bapak yang usang, atau tangan Ibu yang kasar karena tanah sawah orang lain. Mereka mengukur masa depan saya dari apa yang orang tua saya miliki, bukan dari apa yang orang tua saya perjuangkan.
Hari ini, semua keraguan itu runtuh. Ketukan palu sidang hari itu bukan tanda berakhirnya sebuah ujian, melainkan ketukan yang meresmikan bahwa air mata Ibu yang dulu jatuh karena terluka, kini berubah menjadi air mata haru yang penuh syukur. Keringat Bapak yang bercucuran di atas pedal becak, kini telah menjelma menjadi tangga tak terlihat yang mengantarkan anaknya berdiri di mimbar akademik.
Dan hari ini, di tengah riuh rendah gedung wisuda yang megah ini, saya berdiri di antara ratusan pasang mata. Saya melihat senyum bangga dari para orang tua hebat yang hadir mendampingi putra-putri mereka. Kursi di atas gedung sana mungkin terlihat kosong untuk dua orang. Bapak tidak bisa ikut menempuh perjalanan jauh karena raganya yang kini digerogoti sakit, dan Ibu dengan kesetiaan yang luar biasa memilih tetap tinggal di rumah, menjaga separuh jiwanya agar tidak sendirian.
Namun, di dalam hati saya, ruangan ini tidak pernah terasa sepi. Saya tahu, fisik mereka mungkin berjarak ribuan kilometer dari gedung ini. Bapak mungkin sedang terbaring di ranjang sederhananya, dan Ibu mungkin sedang duduk di sampingnya. Tapi, saya teramat yakin, jubah wisuda yang saya kenakan hari ini ditenun oleh untaian doa-doa malam mereka yang menembus langit. Kebanggaan dan ketulusan cinta mereka mengalir deras, memenuhi setiap sudut ruangan ini, sama megahnya bahkan mungkin lebih megah dari mereka yang hadir secara nyata.
Ketika tali toga ini dipindahkan, air mata saya jatuh. Bukan karena sedih karena sendiri, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Saya berhasil, Pak. Saya berhasil, Bu. Anak tukang becak dan buruh tani ini telah menyelesaikan janjinya. Ijazah dan toga ini tidak akan membiarkan kalian merasa kecil lagi. Hari ini, dari atas panggung wisuda ini, saya sampaikan pada dunia: Saya adalah anak dari dua manusia hebat, yang meski tak hadir di kursi undangan, namanya telah harum di hadapan Tuhan atas seluruh pengorbanannya.
Setiap kali saya memandang toga atau ijazah ini kelak, saya tidak akan hanya melihat nama saya di sana. Saya akan melihat bayangan wajah Bapak yang legam terbakar matahari, dan wajah Ibu yang teduh penuh doa. Gelar ini adalah milik mereka.
Yogyakarta, 24 Juni 2026
Sulpadli, M.Pd., Gr.
Template Dokumen
Contact Us
U2IK FISIP :
- Tel: +62274-586168
- Email:
- fisip@uny.ac.id;
- humas_fisip@uny.ac.id
- Website: http://fisip.uny.ac.id
Copyright © 2026,
