Bahasa Indonesia
English
You are here
Eurasia Lecturer Series Episode 16 Bahas Imajinasi Sosial, Imperialisme Digital, dan Agensi Budaya Asia

“The Global Village” atau desa yang mendunia, menjadi sebuah realitas yang tidak bisa dihindarkan pada era globalisasi sekarang ini. Tidak hanya dalam konteks persinggungan budaya, ekonomi, dan politik, melainkan juga media. Media global membentuk cara kita membayangkan diri sendiri, bangsa, dan dunia luar. Sesi Eurasia Lecturer Series Episode 16 yang diselenggarakan pada hari Rabu (3/6/2026) pada ini menjadi pengantar bagaimana media global mempengaruhi citra diri. Narasumber yang hadir sesi ini adalah Lisa Lindawati dari University of Queensland, Australia.
Lisa Lindawati mengajak peserta untuk mengkritisi ketimpangan kekuasaan dalam lanskap media dan platform digital global. Sesi dimulai dengan mengeksplorasi bagaimana media global memengaruhi citra diri, identitas, dan imajinasi kita terhadap negara maupun budaya lain. Dengan menggunakan konsep Social Imagination dari C. Wright Mills, peserta diajak melihat keterkaitan antara pengalaman personal dengan struktur sosial yang lebih luas. Apa yang tampak sebagai pengalaman individual sesungguhnya sering kali dibentuk oleh kekuatan sosial, ekonomi, politik, dan media.
Pembahasan kemudian dilanjutkan pada konsep Imagined Communities dari Benedict Anderson. Lisa menjelaskan bahwa media mulai dari surat kabar, radio, televisi, hingga platform digital memungkinkan jutaan orang yang tidak saling mengenal untuk merasa terhubung dalam satu identitas kolektif, termasuk identitas kebangsaan. Melalui media, imajinasi tentang “siapa kita” dan “bagaimana dunia luar bekerja” terus direproduksi dan dinegosiasikan.
Gagasan Peace and War in the Global Village serta The Collapse of Distance dari Marshall McLuhan, mengantarkan pembahasan bahwa kemajuan teknologi komunikasi akan melipat jarak fisik dan mengubah dunia menjadi sebuah “desa global” yang saling terhubung. Fenomena ini sering dibahas sebagai bentuk imperialisme budaya, di mana arus narasi, simbol, dan hiburan lebih banyak mengalir dari pusat-pusat kekuatan media global ke negara-negara berkembang. Indonesia pada periode tertentu bahkan dikenal sebagai salah satu pasar televisi yang sangat besar, dengan konsumsi konten asing yang dominan.
Namun, Lisa menekankan bahwa konektivitas global tidak berkembang secara setara. Negara-negara Barat berhasil mendominasi industri media global melalui konglomerasi besar seperti The Walt Disney Company dan Warner Bros Discovery. Fenomena ini sering dibahas sebagai bentuk imperialisme budaya, di mana arus narasi, simbol, dan hiburan lebih banyak mengalir dari pusat-pusat kekuatan media global ke negara-negara berkembang. Indonesia pada periode tertentu bahkan dikenal sebagai salah satu pasar televisi yang sangat besar, dengan konsumsi konten asing yang dominan.
Perkuliahan ditutup dengan refleksi mengenai posisi Asia dalam arus globalisasi digital saat ini. Lisa menegaskan bahwa meskipun dominasi platform dan industri media global masih kuat, Asia tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif. Berbagai fenomena contra-flow menunjukkan bahwa arus budaya juga dapat bergerak dari Asia ke dunia.
Popularitas K-Pop atau Hallyu, anime Jepang, dan meningkatnya pengaruh drama Tiongkok menjadi contoh bagaimana produk budaya Asia kini membentuk selera, gaya hidup, dan imajinasi global. Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat Asia memiliki agensi budaya: mereka tidak hanya menerima pengaruh luar, tetapi juga mengadopsi, menyaring, mengubah, dan menciptakan kembali identitas budaya mereka sendiri untuk diproyeksikan ke panggung dunia.
“Kebudayaan bersifat dinamis. Di tengah kepungan imperialisme digital, masyarakat Asia tetap memiliki kemampuan untuk menegosiasikan identitas dan menghasilkan arus budaya tandingan yang memengaruhi dunia,” demikian benang merah refleksi yang mengakhiri sesi perkuliahan.
Eurasia Lecturer Series Episode 16 memperlihatkan bahwa kajian media global tidak cukup dipahami sebagai soal teknologi komunikasi semata. Ia juga menyangkut persoalan identitas, kekuasaan, ekonomi politik platform, serta kemampuan masyarakat untuk bernegosiasi dan membentuk kembali kebudayaan di era digital. (Sasiana)
Template Dokumen
Contact Us
U2IK FISIP :
- Tel: +62274-586168
- Email:
- fisip@uny.ac.id;
- humas_fisip@uny.ac.id
- Website: http://fisip.uny.ac.id
Copyright © 2026,
